Thursday, September 11, 2008

Cinta Tanpa Syarat

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, "Kakek nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara kakek dan nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar."

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian," kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi....kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."

Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."

Dipetik dari article@http://www.adriewongso.com

*** adakah kita juga begitu ?


8 comments:

Anonymous said...

ntah le...nak komen lebey2 pun x bley...hidup aku x sampai tahap tu lagi le...

Anonymous said...

mcm tu la life fizi...

Anonymous said...

kalau bley memang le nak pasangan yang mcm dalam cite tu...tapi pluang dia ntah brapa dalam satu...rezeki, jodoh, semua kat tangan Tuhan...kita bley doa yang terbaik tapi kena ingat gak...kekadang yang terbaik tu la ujian yang tuhan bagi kat kita nie...x gitu?

Anonymous said...

bgs ler sesgt kalu dapat pasangan gitu..menyayangi dan disayangi jua.
akhirnya sempat gak ko up date blog ko kan.. sgat la sibok ko ni.. hisshhh2..

umi said...

aku mmg le bizissssssssssssss cik asiah oii. nasib nampak lagi jalan balik ghumah. punah hasrat aku nak memasak di bulan posa. smp umah azan dah bkumandang hehe

Anonymous said...

ok le tu cik umi....at least dah apply cuti raya...aku ni sampai petang raya keje pe cite?..nasib la x payah balik kg lagi...sebab memang kat kg pun...

umi said...

ala ko jauh mane. sekangkang kera je da sampai umah. aku nak meredah arus jam lagi !!! x sanggup huhu

Anonymous said...

hish...mana ada sekangkang kera....kalau sekangkang je mesti besor giler kera tu....